[Geser ke bawah untuk versi Bahasa Indonesia]

In many countries the role of public libraries is changing. In the Netherlands many neighborhood libraries were recently closed due to budget cuts by a neo-liberal government – in Indonesia there has never been a substantial public library system. Self-organized libraries have filled some of these gaps. In what significant political moment(s) did they arise? What impact do libraries have on local communities? Can a library function as a public safe space that is open to different voices? Which tactics are deployed by self-organized libraries to encourage uncensored and unrestricted access to information?

In this discussion KUNCI Cultural Studies Center and library will share their founding history just after reformasi, their collection and the way they run it. Rumah Baca Komunitas started in 2013 and runs a ‘fixed’ library and a mobile library (Perpustakaan Jalanan) – every sunday they can be found at Alun Alun Kidul where they, aside to providing books, create a space for debate on local issues that directly effect the lives of Jogja citizens. Eva Olthof is a visual artist living and working in Rotterdam. She is currently working at KUNCI, researching self organization and libraries. Before she has been doing research on public libraries in Germany and the USA.

Sunday, 17 December 2017, 1.30-4 pm
at Jogja Library Center (Perpustakaan Malioboro)
Jalan Maliboro 175, Yogyakarta

Free and open for public

—-

Perpustakaan Umum…

Di banyak negara peran perpustakaan umum tengah berubah. Di Belanda akhir-akhir ini banyak perpustakaan daerah tutup karena pemotongan anggaran oleh sebuah pemerintahan neo-liberal—di Indonesia tidak pernah ada sebuah sistem perpustakaan umum yang substansial. Perpustakaan-perpustakaan swakelola mengisi kesenjangan ini. Pada momen politik yang seperti apa perpustakaan-perpustakaan ini muncul? Apa dampaknya pada komunitas-komunitas lokal? Dapatkah perpustakaan menjadi sebuah ruang publik yang aman, yang terbuka pada beragam suara? Siasat apa yang dijalanlan oleh perpustakaan-perpustakaan swakelola untuk mendorong akses tanpa sensor dan tanpa batasan pada informasi?

Dalam diskusi kali ini KUNCI Cultural Studies Center akan berbagi riwayat pendiriannya pada awal masa Reformasi, perpustakaan dan koleksinya, dan bagaimana menjalankannya. Rumah Baca Komunitas, yang dimulai pada 2013, akan berbagi tentang perpustakaan ‘tetap’ dan perpustakaan bergerak (Perpustakaan Jalanan) yang mereka kelola. Perpustakaan Jalanan berlangsung di Alun-Alun Selatan Yogyakarta setiap hari Minggu. Selain menyediakan buku, perpustakaan ini menyediakan ruang untuk berbedat tentang isu-isu lokal yang berdampak langsung pada kehidupan warga Yogyakarta. Eva Olthof, perupa dari Rotterdam, Belanda, akan berbagi tentang penelitiannya tentang perpustakaan-perpustakaan dan siasat swakelola. Eva kini tengah berkarya di KUNCI; setelah sebelumnya melakukan penelitian tentang perpustakaan-perpustakaan umum di Jerman dan Amerika Serikat.

Minggu, 17 Desember 2017, pukul 13.30-16.00
di Jogja Library Center (Perpustakaan Malioboro)
Jalan Maliboro 175, Yogyakarta